Pendidikan Tinggi Sebagai Investasi

Tidak dapat dipungkiri bahwa halangan utama masyarakat Indonesia dalam menyekolahkan anak ke jenjang S1 dan S2 adalah masalah biaya. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pendidkan tinggi dapat dikatakan sebagai barang mewah.

Hal ini dibuktikan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang ketenagakerjaan 2016, diketahui dari jumlah angkatan kerja yang mencapai 127,67 juta orang, 47,37% adalah lulusan SD dan SD ke bawah, lulusan SMTP 18,57%, dan SMTA/SMK sebesar 25,09%. Lulusan Diploma ke atas (DI, DII, DIII dan Universitas) hanya berjumlah 8,96%.

Namun janganlah masalah biaya memupuskan harapan anda untuk memberikan yang terbaik bagi anak anda. Yang penting adalah merubah cara pandang dan kemauan berusaha untuk mengatasi masalah biaya yang besar tersebut. Biaya pendidikan tinggi anak anda bisa jadi adalah salah satu pengeluaran terbesar yang pernah anda buat. Bahkan jika anda memiliki lebih dari satu anak, komitmen keuangan yang diperlukan menjadi lebih besar lagi.

Pertama. Jangan anda berfokus pada aspek biayanya saja. Bayangkan anak anda datang kepada anda sambil menunjukan surat penerimaan dari salah satu universitas terbaik di dunia. Universitas yang selama ini anda dan dia impikan dengan jurusan yang sangat sesuai dengan aspirasi karirnya. Hanya satu hal yang bisa membuat anda lebih berbahagia lagi daripada berita itu sendiri yaitu anda telah mempersiapkan semuanya, terutama dari segi keuangan. Anda sudah memiliki dana yang cukup untuk membiayai mewujudkan cita-cita anak anda di universitas pilihan.

Kebanyakan orang melihat biaya pendidikan tinggi seperti harga mobil. Tapi bagaimana jika anda melihatnya sebagai investasi? Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja di Amerika Serikat, di negara tersebut orang-orang yang memiliki gelar sarjana memiliki pendapatan mingguan rata-rata 60% lebih tinggi dibanding mereka yang hanya lulusan SMA. Tingkat pengangguran di antara pemegang gelar sarjana adalah setengah dari mereka yang hanya memiliki ijazah SMA. Di Indonesia dari pengamatan sehari-hari dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan lulusan S-1 ke atas jelas lebih tinggi daripada yang hanya lulusan SMA.

Jika pendapatan di masa depan diartikan sebagai future cash flow, maka berinvestasi dalam pendidikan tinggi akan memberikan return yang lebih tinggi berupa future cash flow yang lebih tinggi daripada jika tidak berinvestasi dalam pendidikan tinggi. Jika dilihat dari periode bertahun-tahun hingga seseorang pensiun, maka akumulasi pendatapan seseorang yang bekerja dan berlatar pendidikan tinggi akan sangat jauh melebihi akumulasi pendapatan seseorang yang hanya lulusan SMA. Oleh karenanya, sangat layaklah investasi dalam pendidikan tinggi diprioritaskan dan diperjuangkan semaksimal mungkin dikarenakan hasil yang diperoleh nanti sangatlah menentukan dan bermanfaat bagi penerimanya di masa depan dalam jangka yang sangat panjang.


Rahmat Sugiono Halim, CFA, FRM

Bertanggung jawab mengkoordinasi dan memastikan strategi dan rencana investasi terlaksana. Sehari-hari mengawasi dan memantau pelaksanaan strategi investasi dan pengelolaan dana investasi.

Comments

Us

Don’t Miss To Follow Us On Our Social Networks Official Accounts.