Kurangi Risiko dengan Berinvestasi ke Luar Negeri

Pertumbuhan ekonomi berdampak pada kehidupan penduduk suatu negara yang erat kaitannya dengan kesejahteraan rakyat banyak. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, sepeti peran pemerintah, tanah dan kekayaan alam, mutu tenaga kerja dan penduduk, barang modal dan tingkat tekhnologi, sistem sosial dan sikap masyarakat, serta yang tidak kalah penting adalah minat masyarakat dalam berinvestasi.

Pertumbuhan ekonomi bukan hanya berasal dari dalam negeri, pengaruh kuat juga datang dari luar negeri. Investasi di dalam negeri selama ini dianggap sebagai pilihan yang cukup terbuka, dengan kata lain dengan berinvestasi didalam negeri dapat menjadi pilihan dalam proses menumbuhkan ekonomi dengan kemudahan akses informasi yang mudah, namun perlu diingat bahwa berinvestasi di dalam negeri memiliki tingkat pengembalian yang terukur. Investasi di luar negeri bisa menjadi pilihan yang relatif baik, hal ini diharapkan secara langsung maupun tidak langsung dapat lebih merangsang dan menggairahkan iklim atau kehidupan dunia usaha, serta dapat dimanfaatkan sebagai upaya menembus jaringan internasional melalui jaringan yang dimiliki. Selanjutnya investasi di luar negeri diharapkan secara langsung dapat mempercepat proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Investasi di luar negeri bisa dilakukan secara langsung, maupun tidak langsung dengan cara membeli suatu produk investasi yang dikeluarkan dan dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan terdaftar. Banyak perusahaan di Indonesia yang mengeluarkan produk investasi namun hanya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Apabila kita pikirkan ulang, apakah tujuan hidup kita hanya terkait keuntungan semata? Apa tidak bisa melangkah dengan berbagai macam tujuan? Apakah tidak mungkin mendapatkan keuntungan sekaligus memperoleh pendidikan tinggi di negara-negara maju untuk keturunan berpikir maju yang lebih baik?

Investasi pada pasar modal Indonesia tidak optimal untuk pembiayaan kuliah di negara-negara maju, hal ini dikarenakan inflasi biaya kuliah yang tinggi di negara luar (contoh : Amerika Serikat), depresiasi jangka panjang Rupiah terhadap Dollar, serta ketidak jelasan perlindungan hukum terhadap investasi di Indonesia. Hal ini berkaitan erat dengan celah yang terdapat dalam ketentuan atau peraturan yang isinya masih belum sepenuhnya dapat mengantisipasi segala kemungkinan terjadinya tindakan untuk menghindari maksud dari ketentuan tersebut tanpa melanggar materi ketentuannya.

Negara luar biasanya menuntut pengaturan yang liberal dan dengan tingkat ambisi yang tinggi. Perundingan atas hal ini merupakan hal penting karena posisi tersebut akan dituangkan ke dalam pasal-pasal perjanjian. Dengan kata lain, pengaturan yang biasanya digunakan sebagai dasar menjadi lebih aman bila dilihat dari sisi investor. Keadaan seperti ini tentunya sangat berbeda dengan Indonesia yang biasanya memiliki dan menghendaki pengaturan yang sebisa mungkin berimbang antara liberalisasi dan fleksibilitas. Hal ini sebenarnya dapat menjadi suatu kompleksitas dan faktor yang berisiko cukup tinggi bagi investor.

Indonesia lebih cenderung bersikap pasif dan menerima usulan perjanjian investasi internasional. Tentunya sikap ini sangat berbanding terbalik dengan negara-negara maju yang selalu menggodok peraturan yang kuat dan cenderung lebih aman serta memiliki tingkat risiko cenderung rendah.

Sehubungan dengan itu, dengan menginvestasikan uang ke dalam instrumen di luar negeri hampir dapat dipastikan mengurangi tingkat risiko dan memiliki kekuatan hukum tetap serta investor diharapkan mendapatkan imbal hasil yang jauh lebih baik daripada menginvestasikan uang ke dalam instrumen dalam negeri.


Rahmat Sugiono Halim, CFA, FRM

Bertanggung jawab mengkoordinasi dan memastikan strategi dan rencana investasi terlaksana. Sehari-hari mengawasi dan memantau pelaksanaan strategi investasi dan pengelolaan dana investasi.

Comments

Us

Don’t Miss To Follow Us On Our Social Networks Official Accounts.